perang salib
MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
PERANG SALIB
Dosen Pengampu:
M. MUKHLIS FAHRUDDIN,M.S.I
Disusun oleh:
Danang Hadi U. (13620002)
Aina Maya Shofi (13620009)
Nia Rahmi (136200
Ario Miftahul H. (13620025)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA
MALIK IBRAHIM
MALANG
2013/2014
DAFTAR
ISI
Cover .................................................................................................................................................................. i
Daftar Isi ............................................................................................................................................................ ii
BAB I
Pendahuluan ................................................................................................................................................... 1
Rumusan Masalah .......................................................................................................................................... 1
Tujuan ............................................................................................................................................................... 1
BAB II
Pengertian perang salib ................................................................................................................................ 3
Penyebab terjadinya perang salib ............................................................................................................... 3
Proses terjadinya perang salib ..................................................................................................................... 6
Dampak akibat perang salib ....................................................................................................................... 13
BAB III
Penutup .......................................................................................................................................................... 15
Daftar Pustaka ....................................................................................................................................... ..... 17
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sebuah
peradaban itu tak lepas dari sejarah, karena sejarahlah yang membentuk suatu
peradaban. Begitu besarnya pengorbanan Islam demi berdirinya Daulah Islamiyah.
Akan tetapi pada masa kini sejarah telah dijadikan sebuah cerita masa lalu yang
taka ada gunanya lagi untuk kehidupan di masa modern ini. Padahal sudah kita
ketahui bahwa sejarah adalah suatu kunci adanya peradaban.
Sejarah
dari perkembangan islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat
mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan sampai ketanah eropa. Hal ini
menunjukkan kegemilangan islam dalam menyebarkan agama islam. Kedatangan islam
ditanah eropa membawa perubahan yang besar baik dibidang pendidikan,
pengetahuan, peradaban dan kebudayaan. Namun kegemilangam tersebut tak semudah
yang dibayangkan. Dalam memasukitanah eropa, islam memerlukan suatu perjuangan
dan pengorbanan yang sangat dahsyat. Perjuangan ini harus dilewati dengan
peperangan, perang yang sangat terkenal dalam sejarah islam ini adalah perang
salib.
Perang salib yang terjadi antara tentara islam dan
tentara Kristen. Hal inti terjadi kurang lebih selama dua ratus tahun, Perang
ini merupakan konflik terbesar antara
dua penganut agama besar di dunia yaitu agama Islam yang tengah berkuasa
pada waktu itu disebagian Eropa, Afrika Utara dan Asia, dengan pemeluk agama
Nasrani yang berusaha merebut kota Yerusalem yang pada waktu itu dikuasai oleh
Islam, yang nota bene merupakan kota suci bagi mereka[1]. Dalam peperangan ini
tentara Salib memakai tanda salib di pakaiannya sebagai tanda pemersatu umat
Kristiani dan menunjukkan peperangan suci.Demikian pula halnya dengan perang salib
yang telah menjadi realitas sejarah umat
manusia.
Mengingat Islam dan Kristen merupakan dua agama besar
didunia yang dalam ajaran agamanya sangat sarat dengan nilai-nilai perdamaian,
toleransi dan hubungan sosial, baik
dalam al-Qur’an maupun Injil banyak sekali dijumpai ayat-ayat
tentang seruan untuk toleransi, perdamaian dan hubungan sosial. tentu
akan muncul suatu pertanyaan besar, mengapa perang ini mesti terjadi,
pada hal didalam Islam dijumpai suatu seruan untuk berdialog dengan Ahlul kitab
dengan cara yang baik. Islam juga memandang bahwa kaum Nasrani adalah sebagai orang yang paling dekat dengan ummat Islam.
Sementara itu, didalam Kristen demikian pula dijumpai
ajaran perdamaian seperti dalam Martius12 : 30 disebutkan bahwa siapapun yang tidak bersama
Yesus berarti ia menentangnya dan siapa yang tidak mengumpulkan
bersamanya berarti ia telah menceraikan.
tetapi ketika berbicara mengenai konsep peperangan agama Kristen
melarang hal tersebut.
Maka dari itu, dari
makalah yang telah kami susun ini. kami berharap agar para pembaca mengetahui
lebih dalam tentang Sejarah Peradaban Islam pada masa Perang Salib, juga mengetahui alasan tentang terjadinya
perang salib Dan dari sini dapat dipetik sebuah hikmah dari sebuah sejarah yang
telah terjadi di masa lalu ini.
1.2
Rumusan masalah
1.Apa yang dimaksud dengan Perang Salib?
2.Apa
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Perang Salib?
3.
Bagaimana proses tejadinya Perang Salib?
4.
Apa dampak yang diakibatkan Perang
Salib?
1.3
Tujuan
1.
Memahami pengertian Perang Salib.
2.
Mengetahui faktor penyebab Perang Salib.
3.
Mendeskripsikan peristiwa Perang Salib.
4.
Mengetahui dampak dari Perang Salib.
2
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perang
Salib
Perang salib adalah gerakan
umat Kristen di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara
berulang-ulang mulai abad ke-11 sampai abad ke-13 (kurang lebih 200 tahun/ dua
abad), dengan tujuan untuk merebut Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim dan
mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur[2]. Dinamakan Perang Salib, sebab
ekspedisi militer Kristen dalam peperangan ini mempergunakan lambang
salib yang merupakan sebuah simbol pemersatu antara kaum Kristiani untuk
menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci[3].
Istilah ini juga
digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke-16 di
wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan
dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran; antara agama, ekonomi, dan
politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi
besar ke Tanah Suci selama Abad ke-11 sampai dengan Abad ke-13. “Perang Salib”
lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika
iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance[4]. Perang Salib pada hakikatnya
bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini
dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu
pengetahuan[5].
2.1 Penyebab Perang Salib
Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya perang
salib ini, diantaranga adalah:
1. Permintaan
Kaisar Alexius Connenus I
Permintaan Kaisar Alexius Connenus I pada tahun
1095 kepada Paus Urbanus II[6]. Kaisar dari Bizantuim
meminta bantuan dari Romawi karena daerah-daerah yang sampai ke pesisir Laut
Marmora telah dibinasakan oleh Dinasti Saljuk. Dinasti Seljuk ini dapat merebut
Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyyah yang
berkedudukan di Mesir. Hingga akhirnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Dinasti
Seljuk bagi umat Kristiani yang hendak berziarah kesana
dirasakan sangat memberatkan
dan menyulitkan[7]. Bahkan,
kota Konstanatinopel diancamnya pula. Adanya permintaan ini, Paus Urbanus II
melihat kemungkinan untuk mempersatukan kembali (gereja Yunani dengan Romawi
yang telah terpecah semenjak tahun 1009-1054)[8].
2. Pidato
dari Paus Urbanus II
Pada tanggal 26 November 1095, Paus Urbanus II
menyampaikan pidatonya yang menggebu-gebu dihadapan ribuan kaum Kristiani. Isi
pidato yang disampaikan oleh Paus Urbanus II menyulut Perang Salib ini terjadi
di Clermont, bagian Tenggara Perancis dan memerintahkan orang-orang Kristen
agar memasuki lingkungan Makam Suci, untuk merebutnya dari orang-orang jahat
serta menyerahkannya kembali kepada mereka[9].
Mungkin inilah salah satu bentuk pidato paling
berpengaruh yang pernah disampaikan oleh Paus Urbanus II sepanjang catatan
sejarah. Orang-orang yang hadir di sana dengan penuh semangat yang tinggi
meneriakkan slogan Deus Vull (Tuhan menghendaki) sambil
mengancung-acungkan tangan[10]. Sehingga pada musim semi
tahun 1097, sekitar 150.000 manusia umat Kristiani, sebagian besar yang
merupakan orang Franka, Norman dan sebagian lagi merupakan rakyat biasa
menyambut seruan tersebut untuk berkumpul di Konstatinnopel. Pada saat itulah
genderang Perang Salib, dengan himpunan umat Kristiani yang dirasakan sudah
cukup untuk menyerang Islam mulai dilancarkan.
3. Faktor Agama
Dalam perspektif agama perang
salib terjadi karena kaum Kristen merasa
terhina atas perlakuan yang mereka terima ketika menunaikan ibadah ketanah suci Yerussalem. Mereka merasa
terganggu atas perlakukan Bani Saljuk
yang menguasai Baitul Makdis, perlakukan tersebut tersebut telah
menyinggung perasaan orang-orang Kristen
karena Yerussalem bagi mereka adalah sebagai kota suci sebagai tempat kelahiran Yesus. Kini telah
dikuasai oleh Bani Saljuk, sehingga mereka merasa tidak bebas lagi menjalankan
ritual agamanya yang mendapat gangguan
dari Bani Saljuk.
Disamping
itu Penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan untuk umat Kristen yang
mengunjungi Baitul Makdis, peraturan-peraturan tersebut sangat mengganggu mereka, sehingga mereka merasa
tidak aman lagi, untuk beribadah ke Baitul Makdis[11].
Hal
tersebut telah memicu kebencian dan kemarahan serta sikap anti pati umat
Kristen terhadap Islam, sehingga mendorong mereka bersatu untuk menghancurkan
Islam, dan merebut kembali daerah-daerah yang pernah mereka kuasai, yang
puncak dari kemarahan itu telah mendorong
mereka untuk melakukan perang suci atau perang salib.
4. Faktor Politik
Kekalahan
Byzantium di Marzikan tahun 1071 dan
jatuhnya Asia kecil dibawah kekuasaan Bani Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius untuk meminta bantuan kepada
Paus Urban II untuk mengembalikan kekuasaannya di sejumlah wilayah yang
diduduki oleh Bani Saljuk, permohonan ini diterima oleh Paus dengan catatan
bahwa Kaisar harus tunduk kepadanya.
Sementara
itu dilain pihak kekuasaan Islam diwaktu
itu barada dalam kelemahan, sehingga memicu semangat juang kalangan Kristen
untuk melancarkan serangan diwaktu itu, Dinasti Saljuk di Asia Kecil sedang
mengalami perpecahan setelah Sultan
Malik Syah (1071-1092) wafat, terjadi perebutan kekuasaan di antara putera-puteranya. Disamping itu Dinasti Fatimiyyah di Mesir
dalam keadaan lumpuh pula, sedangkan kekuasaan Islam di Spayol pada waktu itu
dalam kondisi yang lemah.[12]
Kondisi
sosiol politik tersebut menjelaskan kepada kita bahwa ummat Islam pada waktu
itu berada pada titik nadir yang lemah, umat Islam telah berpecah – pecah,
keadaan yang seperti ini memberikan peluag yang besar bagi umat Kristen
untuk melancarkan serangan kesejumlah wilayah-wilayah yang berbasiskan Islam.
5. Faktor Ekonomi
Pedagang-pedagang
besar yang berada dipantai timur laut tengah, terutama yang berada di pantai
timur laut tengah, dikota Venezia, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai
sejumlah kota-kota dagang di sepanjang Pantai Timur dan Selatan Laut Tengah
untuk memperluas jaringan dagang mereka, oleh karena itulah mereka tidak
segan-segan menjadi penyangga dana perang salib dengan harapan menjadikan
kawasan itu sebagai pusat
perdagangan mereka apabila pihak Kristen
memperoleh kemenangan[13]
ini
menunjukkan kepada kita bahwa perang salib ini, ternyata tidak murni dilandasi
oleh dorongan spritual keagamaan, ia bukan lagi menjadi perang suci, disini
yang menjadi motifator bukan lagi agama tetapi persoalan ekonomi untuk
memperoleh keuntungan, Bahkan lebih eronisnya terdapat sejumlah pemimpin mereka
seperti Bohemond yang turut berpartisifasi dalam perang salib dalam rangka
memperkaya diri sendiri.
6. Faktor Sosial
Dikalangan
bangsa Erofa terjadi kesenjangan sosial, yaitu kaum Gereja yang disebut dengan kaum bangsawan dan rakyak
jelata yang menempati kelas paling bawah. Sehingga status sosial tersebut juga
membawa dampak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merasa sering tertindas
karena adanya beban untuk membayar pajak.
Disisi lain dalam masyarakat
Eropa berlaku hukum waris yang menetapkan bahwa hanya anak tertua saja yang berhak
menerima harta warisan, apabila anak tertua meninggal maka harta warisan
tersebut harus disumbangkan kepada pihak Gereja[14].
Akibat adanya peraturan dari Gereja ini maka populasi orang-orang miskin di Eropa meningkat.
Disamping
itu perlu diketahui bahwa sebagian warga
Eropa memiliki bakat romantis yang senang berkelana, berpetualangan
serta ada juga para pendosa yang suka
berbuat tindakan kriminal mereka turut ambil bagian dari perang salib. Mereka
mudah dimobilisasi oleh pihak Gereja untuk ambil bagian dari perang salib,
sebab mereka di iming-iming dengan janji-janji dan harapan bahwa bagi para
pendosa diberikan ampunan dosa dan kalau mereka meninggal dalam perang salib makamereka
memperoleh surga.
2.3 Proses
terjadinya perang salib
Perang salib yang dikisarkan
terjadi pada tahun 1095 sampai tahun 1291 M ini. Menurut pendapat dari para
ahli sejarah terbagi menjadi beberapa periode. Ada yang mengatakan delapan
belas kali[15]
dan ada juga yang mengatakan Sembilan belas kali, perang atau serbuan pasukan
salib ini dimulai pada tahun 1095 dan dilancarkan limakali ke daerah syam, dua
kali kedaerah mesir, satu kali ke Tunisia dan satu kali Konsentinopel yang saat
ini merupakan pusat Gereja Kristen Timur[16].
Sementara menurut Philip K.Hitti
menyebutkan pembagian perang salib yang biasa dibuat para sejarawan dalam buku
mereka tujuh sampai Sembilan kali tidak sesuai dengan kebenaran dan menurut
pendapatnya periode perang salib hanya pada tiga bagian saja, yaitu: periode
pertama masa pemaklukan yang berjalan sampai tahun 1114 M. periode kedua masa
timbulnya reaksi atau perlawanan dari umat islam kepada umat Kristen hingga
mencapai puncaknya pada kemenangan Shalahuddin (saladin) yang gilang gemilang
sampai tahun 1193M. Dan periode ketiha masa peperangan kecil-kecilan yang
berakhir pada tahun 1291 M, ketika jamaah salib kehilangan tempat bertahan
didarat Syiria[17].
Adapun penjelasan yang lebih rinci, akan kita jelaskan dalam pembahasan dibawah
ini:
1.
Periode
pertama (periode penaklukan: 1096-1144)
Perang salib muncul kepermukaan untuk
pertama kali adalah atas inisiatif Paus
Urbanus II ketika Paus Urbanus II melakukan istighosah akbar dengan
seluruh para pembesar –pembesar Gereja
dalam menyikapi reaksi kehadiran Bani Saljuk di daerah Yerusalem. Setelah
istighozah tersebut Paus Urbanus II berpidato menyuarakan semangat perang dan
mengatas namakan dengan perang suci (perang Salib), hal ini terjadi pada tahun
1095 M.
Selanjutnya
Boutros mensosialisasikan sekaligus
mengkampanyekan kepada seluruh umat Kristen untuk ikut serta dalam perang suci
tersebut. Boutros ini pernah pergi ke Yarusalem untuk melaksanakan
ibadah ke Baitul Makdis, namun ia dicegat oleh militer Bani Saljuk. Oleh karena itulah ia mengelilingi Eropa dalam rangka
mensosialisasikan perang salib ini sekaligus mengumumkan umat Kristen untuk
ikut berperang dalam pasukan salib.
Boutros
akhirnya berhasil mengumpulkan sejumlah pengikutnya yang terdiri dari rakyat jelata yang mengikut
sertakan anak-anak dan isteri-isteri mereka. Selanjutnya menurut Hasan Ibrahim
mengilustrasikan bahwa pasukan yang hendak membebaskan Baitul Makdis
Yerusalem ini, tidak memiliki pengalaman
berperang dan tanpa membangun persiapan yang matang, sehingga sepanjang jalan
yang mereka lalui mereka melakukan keonaran dan perampasan. Tetapi ketika
mereka mendekati daerah Bani Saljuk dengan mudahnya mereka dikalahkan oleh
tentara Dinasti Bani Saljuk, peristiwa ini terjadi pada tahun 489 H/ 1096 M[18]
Kekalahan
pasukan salib ini tidaklah mengherankan mengingat mereka tidak memiliki kualifikasi
tentara yang baik, bahwa pasukan ini terdiri dari orang-orang yang berputus
asa, para penjahat, dan orang-orang pinggiran rakyak biasa, yang tidak punya
peengalaman dalam menghadapai peperangan, oleh sebab itu mereka dengan mudahnya dapat dikalahkan oleh pasukan
Bani Saljuk.
Pada
tahun 1097 M umat Kristen melakukan
konsilidasi yang lebih matang, pasukan
ini berkumpul di Konstantinopel dan ini merupakan suatu pasukan yang
terorganisir dengan rapi, mereka terdiri dari para pemimpin yang berpengalaman
yang terdiri dari ribuan pasukan, sehingga ada yang menggambarkan bahwa Kaisar
Alexius sangat terkejut dengan jumlah pasukan yang sangat besar tersebut.
Pasukan
ini bergerak dari Konstantinopel menuju kota Antakiah pada bulan Oktober 1098 M selama
sembilan bulan kota ini dikepung akibatnya adalah berkurangnya cadangan
logistik warga tersebut. Dan sangat dimungkinkan terjangkitnya penyakit yang
melanda kota tersebut, sementara persediaan obat-obatan terbatas. Oleh karena
itulah akhirnya kota Antakiah jatuh kedalam kekuasaan pasukan salib.
Disini
sejarah mencatat bahwa ketika mereka berhasil menduduki kota Antakiah ini,
mereka melakukan pembantaian secara besar-besaran atas penduduk kota tersebut.
Setelah kemenangan ini, pasukan salib terus bergerak, melakukan ekspansi
kewilayah islam lainnya. Pada tahun 1099 M, pasukan salib berhasil menduduki
wilayah Yerussalem. Ekspansi terus dilakukan
sehingga pada akhirnya berdirilah kerajaan-kerajan Kristen di dunia
Islam.
Hasan
Ibrahim menyebutkan bahwa di daerah Syam
berdiri kerajaan-kerajan Kristen seperti wilayah Baitul Makdis dikuasai oleh
Godfrey, daerah Antakiah berada dibawah kekuasaan Bahemond, Trabes berada
dibawah kekuasaan Raymond dan Raha berada dibawah kekuasaan Baldwin[19].Dengan
demikian pada ekspedisi yang kedua ini, tentara salib berhasil mencapai
kemenangan dengan merebut dan menduduki beberapa wilayah-wilayah yang sangat penting pada waktu itu, hal ini
disebabkan mereka memiliki pasukan yang
sangat besar. Disamping itu mereka diuntungkan dimana pada waktu itu umat Islam
tidak bersatu, Islam berada dalam situasi konflik akibat adanya pertikaian
sesama mereka.
Keberhasilan Eropa pada perang salib I, yang
dipimpin oleh Raymond dari Perancis, Bohemund dan Godfrey Bouillon ditandai
dengan berdirinya tiga kerajan latin.
Kerajaan-kerajan tersebut adalah :
Kerajan latin I di Raha (Edessa) dengan Baldawin sebagai rajanya, kerajaan latin II di
Antiochea, ( Antakia) di Timur dengan Bohemund sebagai rajanya. dan kerajaan
latin III didirikan di Baitul Makdis
(Yerussalem) dengan Godfrey sebagai rajanya (1096-1144 M). Akan tetapi keraajan tersebut tidak berumur
panjang karena terjadi perpecahan dan perebutan kekuasaan diantara mereka[20].
Pada serangan tentara salib yang
pertama ini, meskipun kondisi kekuatan umat islam lemah dan tak berdaya namun
bukan berarti tidak ada perlawanan sama sekali dari umat Islam. Sultan
Muhammad dari Damaskus, berusaha mengabaikan
konflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan Saljuk untuk mengusir
pasukan Salib, bahkan ia dapat mengalahkan pasukan salib yang dipimpin oleh
Baldawin ketika mereka mengepung kota
Damaskus. Namun Baldawin akhirnya dapat merebut kembali daerah-deaerah yang
lepas setelah mendapat bantuan dari Eropa.
2. Periode kedua (serangan balik
umat islam 1144-1192)
Perang Salib II terjadi disebabkan
jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Kristen ditangan Islam. Reaksi
dan perlawanan yang berarti dari pihak Islam, yang pertama muncul di
bawah pimpinan seorang perwira muslim yang gagah dan berani, yakni Imanuddin Zangki yang memegang pemerintahan
dikota Mosul tahun 521 H, Imanuddin Zangki terkenal dengan keberaniannya,
sehingga dapat mendirikan kerajaan Islam yang kuat yang mencakup Halab, Hamad,
Himsh, dan Ba’labak. Dengan gigih ia
berjuang melawan pasukan salib, sehingga sedikit demi sedikit ia berhasil
memperluas wilayah Islam. Strategi yang dipergunakan dalam melawan pasukan
salib adalah dengan memotong kekuatan tentara salib, yang menghubungkan antara Antiachean dan, dan
terlebih dahulu dia dan pasukannya melumpuhkan dan menguasai Aleppo. setelah
itu ia merebut kembali kekuasaan salib
di Hammah dan diteruskan dengan pembebasan
masyarakat muslim dari penderitaan dan kekejaman pasukan salib di
daerah-daerah al-Asyrib dari kekejaman pasukan salib [21].
Kemudian pada tanggal 27 november 1144 M, Imaduddin Zangki melakukan pengepungan
terhadap Raha Edessa, dan berhasil merebutnya dari tentara salib pada bulan
Desember 1144 M. Dengan demikian Raha dikuasai oleh tentara salib lebih kurang
setengah abad.
Disisi lain bangsa Romawi menjalin
kerja sama dengan Perancis, dan dengan kekuatan gabungan itu mereka menyerang
Buzza. Mereka menangkap dan membunuh wanita dan anak-anak yang tidak berdaya,
kemudian mereka melanjutkan serangan ke Caesarae yang berada di bawah kekuasaan
Abu Asakir. Abu Asakir segera minta bantuan Imaduddin Zangki dan akhirnya
dengan bantuan pasukan Imaduddin pasukan salib dapat diusir. dan wilayah perbatasan di Akra berhasil di
kuasai, begitu juga dengan kota Balbek.
dan selanjutnya masyarakat kota Balbek ini di percayakan kepada komandan
Najamuddin, ayah Salahuddin al-Ayubi.
akan tetapi ketika ia bersama pasukannya mengepung kota Akbarah ia gugur
sebagai syahid dan perjuangan cita-citanya dilanjutkan oleh anaknya Nuruddin
Zangki.
Perang salib II terjadi didorong oleh
jatuhnya kembali Edessa ketangan umat Islam, berita tetang kejatuhan Edessa
ketangan Islam sangat menimbulkan kecemasan bagi tokoh-tokoh Kristen Eropa, seperti Paus Eugenius III sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dikalangan
Kristen Paus Eugenius mengobarkan kebencian terhadap Islam, ia menyerukan untuk
melangsungkan perang salib ke II. Seruan
Paus ini mendapat sambutan positif dari Kaisar
Perancis Louis VII dan Kaisar
Jerman Condrad III. Maka dengan kekuatan besar pasukan perang salib II ini bergerak menuju Asia. Pasukan Perancis dan Jerman ini bertolak melalui jalan darat
menuju kota-kota suci. Sesampainya mereka di Baitul Makdis mereka menentukan untuk
menyerang Dimasyqa bersama-sama dengan tentara salib yang berada di Imarah (
daerah-daerah yang dikuasai oleh tentera perang salib fase 1). Maka
berkumpullah angkatan perang dibenteng-benteng
Dimasyqa dan mengepungnya pada tahun 1148 M. Akan tetapi dalam
pengepungan tersebut mereka mendapatkan kesulitan dan kehabisan tenaga serta
kesabaran untuk tetap bertahan mengepung kota tersebut. Apalagi ketika mereka
mendengar bahwa angkatan perang Nuruddin dan Syaifuddin akan datang untuk
menolong kota tersebut. Maka hal ini
menyebabkan mereka untuk terpaksa angkat kaki meninggalkan kota itu dan kembali
ke Eropa, dan ini merupakan babak akhir dari perang salib II (1147-1149 M)[22]
Dalam masa tahun 544 – 1149 H Nuruddin berhasil menguasai benteng Aireima,
wilayah perbatasan Apamea dan kota Joscelin, dengan menguasai kota-kota
tersebut berarti kota-kota penting yang dikuasai pasukan salib dapat
dikuasainya. Selanjutnya pada tahun 1154 pasukan Nuruddin berhasil mengambil
alih Damascus sebagai usahanya melapangkan jalan menuju Yerusalem[23]
3. Periode
ketiga (Periode perang saudara kecil-kecilan atau kehancuran di
dalam pasukan Salib: 1193-1291 M)
Pada perang salib ketiga ini
pasukan Islam dipimpin langsung oleh Salahuddin al-Ayyubi, sedangkan pasukan
Kristen dipimpin oleh raja-raja yang berkuasa
di Eropa Barat yaitu Frederik Barbarossa kaiser jerman, Richard si Hati
singa raja Inggris, dan Phillip Augustus
raja Perancis. Mereka menyerang Yerussalem dari berbagai arah. Pasukan
yang dipimpin oleh Frederik menempuh
jalan darat, tetapi Frederik dan pasukannya mengalami masalah dalam perjalanan
itu dan ia sendiri mati terbenam ketika menyeberangi sungai di Sicilia,
pasukannya akhirnya terpecah-pecah ada yang kembali ke Eropa dan sebahagian
kecil terus melanjutkan perjalanan dan
bergabung dengan pasukan Perancis. Richard dan pasukannya dapat menaklukan
Cyprus dalam perjalananya ke Yerusalem. Sedangkan Phillip langsung menuju Acre
dan dengan bantuan Richard yang datang
kemudian dapat menaklukkan Acre. Walaupun mereka dapat menaklukkan Acre tetapi
mereka tidak tentram hal ini disebabkan adanya perselisihan yang timbul dikalangan pemimpin perang salib, dimana
Phillip kembali ke Perancis meninggalkan Richard yang melanjutkan peperangan
melawan Islam.
Perang Salib ketiga ini, akhirnya
berakhir dengan perjanjian yaitu daerah pesisir menjadi milik orang Kristen,
sedangkan daerah pedalaman akan menjadi milik kaum muslimin, dan para jamaah
Kristen yang pergi ke Yerussalem tidak akan diganggu. Setelah berhasil mengembalikan kekuasaan
Islam ke Yerussalem enam bulan setelah
itu Salahuddin meninggal dunia dalam usia 55 tahun, tepatnya pada tahun1193 M[24],
dengan demikian berakhirlah perang salib III.
4. Perang Salib IV
Pada tahun 1219 M, meletus
kembali peperangan yang dikenal dengan Perang Salib IV, dimana tentara Kristen
dipimpin oleh raja Jerman, Frederik II, mereka berusaha merebut Mesir lebih
dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang
Kristen Koptik. Dalam serangan tersebut, mereka berhasil menduduki Dimyath,
raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat
penjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan
Dimyath, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin
keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada
Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut
kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, di masa pemerintahan al-Malik
al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya.
Ketika Mesir dikuasai oleh
Dinasti Mamalik yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyyah, pimpinan perang
dipegang oleh Baibars, Qalawun, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada masa
merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim tahun 1291 M. Demikianlah
Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di
Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana[25].
5. Perang Salib V
Perang Salib ini merupakan
lanjutan Perang Salib I dan IV, dengan sasaran utamanya Mesir. Saat itu Mesir
berada di bawah Pemerintahan Al-Malik al-'Adil, yang meninggal dunia (1218)
setelah tentara Salib menguasai menara Al-Silsilah. Al-Malik kemudian
digantikan oleh putranya Al-Malik al-Kamil (1218-1238). Al-Malik al-kamil
menghadapi gangguan dari dalam, yaitu konspirasi yang dipimpin oleh seorang
panglima yang berasal dari Kurdi, Ibn Masytub, yang hendak menyisihkannya. Ia
lalu melarikan diri ke Yaman. Namun Karena bantuan adiknya, Al-Malik Mu'azzam
dari syam, ia bisa kembali menduduki tahta kesultanan Mesir. Tantangan dari
luar selain dari tentara Salib adalah tentara Mongol yang mulai menguasai dunia
Islam bagian Timur, Khawarizami, negerinegeri Transoxiana, dan sebagian negeri
Persia pada tahun 1220. Serangan Mongol ke Baghdad pun dimulai[26]
Kedudukan tentara Salib
sebenarnya baik karena banyaknya rombongan besar menggabungkan diri atas seruan
Paus Innocent III yang dilanjutkan oleh Paus Honorius III. Raja Juhanna de
Brienne dan Wakil Paus, Plagius, memimpin pasukan ini. Dimyat bisa segera
mereka kuasai pada tahun 1218. Namun, serangan belum dilanjutkan menuju Kairo
karena menunggu bantuan Frederik II dalam perajalanan untuk menopang serangan
selanjutnya. Karena situasi yang mencekam, sebagaimana digambarkan di atas,
ditambah situasi ekonomi yang sulit, terutama karena surutnya sungai Nil, Mesir
diancam bahaya kelaparan. Al- Kamil pun mengajukan permintaan perdamaian. Ia
mengajukan tawaran menyerahkan Jerusalem dan hamper semua kota yang ditaklukan
Shalahudin kepada pihak Salib asalkan mereka (pihak Salib) menarik diri dari
Dimyat. Tawaran yang begitu menguntungkan pihak Salib itu ditolak, bahkan
mereka akan menguasai seluruh Mesir dan Syam. Penolakan ini terutama
dikemukakan oleh utusan Paus, Pelagius, yang ditopang oleh Italia, karena
kepentingan perdagangannya terancam di Mesir. Tidak ada pilihan bagi Al-Kamil:
hancur atau menang. Timbullah ide yang kemudian dilaksanakannya, yaitu
menghancurkan dam-dam irigasi yang menuju Dimyat. Akhirnya banjir pun melanda
seluruh Dimyat. Banyak tentara Salib yang tenggelam. Mereka terancam bahaya
kelaparan. Karena bantuan Frederik II yang diharapkan tak kunjung datang,
tentara Salib pun meninggalkan Dimyat tanpa syarat.
2.4 Dampak akibat
perang salib
Secara
garis besar dampak perang salib adalah Saling tukar menukar ilmu pengetahuan
antara Kristen dengan islam. meski benua Eropa bersinggungan dengan budaya
Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara semenanjung Liberia dengan
Sicilia[27]
Pihak
Islam pada akhirnya dapat memenangkan Perang Salib yang sangat melelahkan,
berlangsung tahun 1096-1291 M. Walaupun menang umat Islam sebenarnya mengalami
kerugian yang luar biasa karena peperangan itu terjadi di kawasan dunia Islam
(Turki, Palestina, dan Mesir). Sebaliknya bagi pihak Kristen, mereka menderita
kekalahan dalam Perang Salib, namun mendapatkan hikmah yang tidak ternilai
harganya karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam
yang sudah maju. Kebudayaan dan peradaban yang mereka peroleh dari Timur-Islam
menyebabkan lahirnya Rennaisans di Barat. Kebudayaan yang mereka bawa ke Barat
terutama dalam bidang militer, seni, perindustrian, perdagangan, pertanian,
astronomi, kesehatan, dan kepribadian[28].
1. Dalam bidang militer
Dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang yang belum pernah
mereka temui sebelumnya di negerinya, seperti penggunaan bahan-bahan peledak
untuk melontarkan peluru, pertarungan senjata dengan menunggang kuda, teknik
melatih burung merpati untuk kepentingan informasi militer, dan penggunaan
alat-alat rebana dan gendang untuk memberi semangat kepada pasukan militer di
medan perang.
2. Dalam bidang
perindustrian
Mereka banyak menemukan kain tenun sekaligus peralatan tenundi dunia Timur.
Utnuk itu mereka mengimpor berbagai jenis kain seperti mosselin, satin, dan
damast dari Timur ke Barat. Mereka juga menemukan berbagai jenis parfum,
kemenyan dan getah Arab yang dapat mengharumkan ruangan.
3. Dalam bidang pertanian
Mereka menemukan sitem pertanian yang sama sekali baru di dunia Barat dari
dunia Timur-Islam seperti model irigasi yang praktis dan jenis tumbuh-tumbuhan
dan buah-buahan yang beraneka macam. Disamping itu merka menemukan gula yang
dianggap cukup penting.
4.
Dalam bidang perdaganagan
Sebagai akibat hubungan perniagaan dengan Timur menyebabakan mereka
menggunakan mata uang sebagai alat tukar barang, sebelumnya mereka menggunakan
sitem barter. Kontak perdagangan antara Timur dan Barat semakin pesat, dimana
Mesir dan Syria sangat besar artinya sebagai lintas perdagangan. Kekayaan
kerajaan dari rakyat kian melimpah hingga membuka jalan perdagangan sampai ke
Tanjung Harapan dan lama kelamaan perdagangan dan kemajuan timur berpindah ke
Barat (Eropa).
5. Dalam bidang astronomi
lmu astronomi yang
dikembangkan Isam sejak abad ke-9 telah mempengaruhi lahirnya berbagai observatorium di
dunia Barat. Mereka juga meniru rumah sakit dan tempat pemandian. Berita
perjalanan Marcopolo dalam mencari benua Amerika di abad ke-13 sebagai langkah
awal bagi perjalanan Colombus ke Amerika tahun 1492 M. Sikap dan kepribadian
umat Islam di Timur telah memberikan pengaruh positif terhadap nilai-nilai
kemanusiaan di Eropa yang sebelumnya tidak mendapatkan perhatian[29]
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat kita peroleh
beberapa kesimpulan mengenai perang salib ini, yakni:
1. Perang salib adalah gerakan umat Kristen di Eropa
yang memerangi umat Muslim di Palestina secara berulang-ulang mulai abad ke-11
sampai abad ke-13 (kurang lebih 200 tahun/ dua abad)
yang bermula kebencian umat Kristiani terhadap masa pemerintahan Dinasti Seljuk
yang dapat menguasai kota suci mereka. Terlebih dinasti menguasai Baitulmakdis.
Dalam peperangan ini tentara Salib memakai tanda salib di pakaiannya sebagai
tanda pemersatu umat Kristiani dan menunjukkan peperangan suci.
2. Beberapa penyebab yang mengakibatkan
terjadinya perang salib ini adalah sebab:
a.
Permintaan Kaisar Alexius Connenus I
b. Pidato
dari Paus Urbanus II
c.
Factor Agama
d.
Faktor social
e.
Faktor ekomomi,dan
f.
Factor Politik
3. Menurt para ahli sejarawan,masa
perodeisasi pada perang salib ini sangat berfariasi ada yang mengatakan delapan
periode dan ada juga yang mengatakan Sembilan periode. Akn tetap dari beberapa
sumber, kebayakan pendapat bahwa periode yang terjadi adalah sebanyak tiga
periode. Yakni periode peryama mengenai penaklukan islam, periode kedua yakni
mengenai serangan balik umat islam, period eke tiga mengenai saudara
kecil-kecilan atau kehancuran di dalam pasukan Salib.
4. Ada beberapa peninggalan dan
dampak yang diakibatkan hasil dari Perang Salib ini. Diantaranya adalah sebagai
berikut:
a.
Politik dan budaya
yang sangat berpengaruh pada masa abad pertengahan Eropa yang dikenal dengan
istilah Renaissance.
b.
Dengan mengenalnya
perdagangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, berpengaruh pesat terhadap sistem
perdagangan Eropa. Mereka bisa menemukan
15
hal-hal yang
sebelumnya belum pernah mereka temukan.
c.
Kemajuan dibidang
berperangnya juga merupakan salah satu dampak peperangan ini. Orang-orang
Kristen Eropa pada khususnya mengetahui bagaimana caranya berperang, seperti
menunggang kuda, cara menyemangati ketika berperang, dan sebagainya.
16
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Dudunk.2004.Sejarah
Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa Modrn,Yogyakarta:Pesti.
Ali,K.1997. A Study of Islamic History, diterjemahkan
oleh Ali GhufranA. Masadi. Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.
Departemen Agama RI.1993.
Ensoklipidi Islam Jilid III. Jakarta : Depag RI.
Harun,
M. Yahya. 1987. Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropa. Yogyakarta: CV. Bina
Usaha Yogyakarta.
Http//Aguswahyufauzi.wordpress.com
(diakses pada sanin,5 Mei 2014)
Husein Mu’nis,dkk.1981.Tarikh al-Daulah al-Islamiyyah
fi al- Ushur al- Wustho. kuwait: Wizarah al- Tarbiyah.
Ibrahim,
Hasan.1976. Tarikh al-Islam, Jilid IV. Kairo:Maktabat al-Nahdhah al- Mishriyah.
Kuntowijoyo,2003. Metodologi
Sejarah.Yogyakarta:PT.Tiara Wacana.Hlm.48.
Maslani
dan Ratu Suntiah, 2010. Sejarah Peradapan Islam. Bandung: CV.
Insan Mandiri.
Muannis,
Husain.1987. أطلس تاريخ الإسلام, (Cairo: الزهراء للإعلاء
العربى,. Cet.1.
Supriyadi,Dedi. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Syalabi,Ahmad.1977.Mausu’ah al-Tarikh
al-Islamy , Jilid V , Kairo : Maktabah al-Nahdah al Misriyyah.
Yatim, Badri. 2008. Sejarah
Peradapan Islam (Dirasah Islamiah II). Jakarta: PT Raja Grafinda Persada.
Wikipedia bahas Indonesia
ensiklopedi bebas.
17
[1]
Departemen Agama RI, Ensoklipidi Islam, Jilid III, Jakarta : Depag RI, 1993
hal. 899
1
[2]M. Yahya Harun. 1987. Perang Salib dan Pengaruh Islam di
Eropa. Yogyakarta: CV. Bina Usaha Yogyakarta. Hlm. 4.
[3]
Maslani dan Ratu Suntiah, 2010. Sejarah Peradapan Islam. Bandung:
CV. Insan Mandiri. hlm. 133.
[4]
Wikipedia bahas Indonesia ensiklopedi bebas.
[5]
Wikipedia bahas Indonesia ensiklopedi bebas.
[6]
Dedi Supriyadi, 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV.
Pustaka Setia, hlm. 171.
3
[7]
Badri Yatim, 2008. Sejarah Peradapan Islam (Dirasah Islamiah II).
Jakarta: PT Raja Grafinda Persada. hlm. 77
[8]
Aguswahyufauzi.wordpress.com
[9]
Dedi Supriyadi, Op. Cit., hlm.71-72.
[10]Ibid
4
[11]
Hasan Ibrahim, Tarikh al-Islam, Jilid IV, Maktabat al-Nahdhah al- Mishriyah,
Kairo, 1976 hal. 243
[12]Ahmad Syalabi,
Mausu’ah al-Tarikh al-Islamy , Jilid V , Kairo : Maktabah al-Nahdah
alMisriyyah, 1977, hal. 557
5
[13]
Dewan redaksi, loc.cit.
[14]Ibid
hlm. 72
6
[16]
Dudunk Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa
Modrn, (Yogyakarta:Pesti 2004), h.115
[17]
Philip K.Hitti, op.cit, h. 213
[18]
Hasan Ibrahim, op.cit, hal.242
7
[19]
Hasan Ibrahim.op,cit. hlm 247
8
[20]
Philip K. Hitti , Op.cit hal.638-639
[21]
Husein Mu’nis , dkk, Tarikh al-Daulah al-Islamiyyah fi al- Ushur al- Wustho,
Wizarah al- Tarbiyah, Kuwait , 1981 hal. 199
9
[22]
Husin Mu’nis , dkk Ibid hlm .202
[23]
K.Ali, A Study of Islamic History, diterjemahkan oleh Ali GhufranA. Masadi, PT
Raja Grapindo Persada Jakarta, 1997 hal.279
10
[24]
Phillip K. Hitti op.cit, hlm.651
[25]
Kumoro, Hamas ikon perlawanan islam terhadap
Zainisme Israel.Mizan Pustaka.hlm.40
11
[26]
Kuntowijoyo,2003. Metodologi
Sejarah.Yogyakarta:PT.Tiara Wacana.Hlm.48.
12
[27] Ratu Suntiah, Maslani, 2011, Op.
Cit.hlm.137
[28]
Ibid hlm.137
13
14
The Top 10 Best Casinos to Play for Real Money in 2021 - DrMCD
BalasHapus1. Borgata Hotel Casino 춘천 출장마사지 & Spa · 2. Harrah's Atlantic City · 보령 출장샵 3. Caesars 양주 출장안마 Palace · 4. Golden Nugget 영주 출장샵 · 5. Elko Resort & Casino · 안성 출장샵 6. Las Vegas